Selasa, 29 Mei 2012

TEORI KONFLIK


TEORI KONFLIK MENURUT KARL MARX (1818-1883)
Teori konflik Karl Marx didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat.
Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke- 19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi.. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga.
Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka.

#Teori konflik  Karl Marx didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. Kelompok yang memiliki sarana produksi (borjuis) dan kelompok pekerja miskin (proletar) Karl Marx berpendapat bahwa pemilikan dan Kontrol sarana- sarana berada dalam satu individu- individu yang sama.
TEORI KONFLIK LEWIS A.COSER
Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula.
Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana-sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. Konflik juga memiliki kaitan yang erat dengan struktur dan juga konsensus.
Selama dua puluh tahun Lewis. A. Coser tetap terikat pada model sosiologi dengan tekanan pada struktrul sosial. Pada saat yang sama dia menunjukkan bahwa model tersebut selalu mengabaikan studi tentang konflik sosial. Coser mengungkapkan komitmennya pada kemungkinan menyatukan pendekatan teori fungsional struktural dan teori konflik. Coser mengakui beberapa susunan struktural merupakan hasil persetujuan dan konsensus, suatu proses yang ditonjolkan oleh kaum fungsional struktural, tetapi dia juga menunjukkan pada proses lain yaitu konflik sosial.
Teori konflik yang dikemukakan oleh Lewis Coser sering kali disebut teori fungsionalisme konflik karena ia menekankan fungsi konflik bagi sistem sosial atau masyarakat. Lewis Coser memusatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi dari konflik. Bahwa uraian Coser terhadap konflik bersifat fungsional dan terarah kepada pengintegrasian teori konflik dan teori fungsionalisme struktural. Tetapi sebetulnya kalau ia mau konsekuen dengan usahanya itu maka ia juga harus menguraikan akibat-akibat dari keteraturan (order) terhadap konflik atau ketidakseimbangan. Misalnya, penekanan yang terlalu banyak terhadap peraturan biasa menimbulkan ketidakstabilan. Pemerintahan yang totaliter misalnya, sekalipun menekankan aturan yang ketat bisa menimbulkan ketidakstabilan didalam masyarakat.
GAGASAN-GAGASAN COUSER
Pada sisi lain dalam pemikiran teori konflik, Coser melihat konflik sebagai mekanisme perubahan sosial dan penyesuaian, dapat memberi peran positif, atau fungsi positif, dalam masyarakat. Pandangan teori Coser pada dasarnya usaha menjembatani teori fungsional dan teori konflik, hal itu terlihat dari fokus perhatiannya terhadap fungsi integratif konflik dalam sistem sosial. Coser sepakat pada fungsi konflik sosial dalam sistem sosial, lebih khususnya dalam hubungannya pada kelembagaan yang kaku, perkembangan teknis, dan produktivitas, dan kemudian konsen pada hubungan antara konflik dan perubahan sosial.
Pokok teori konflik yang disampaikan oleh Couser antara lain adalah:
1.      Mengenai fungsi-fungsi konflik sosial
2.      Katup Penyelamat (Savety Valve)
3.      Konflik Realistis & Non-Realistis
4.      Permusuhan Dalam Hubungan Sosial-Sosial yang Intim
5.      Isu Fungsionalitas konflik
6.      Kondisi Konflik antara Kelompok Dalam (In-Group) dengan Kelompok Luar (Out Group)
1. FUNGSI-FUNGSI KONFLIK SOSIAL
Konflik pada dasarnya merupakan suatu pertentangan/pertikaian sosial .Tetapi konflik dapat juga merupakan suatu proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial.Konflik dapat menetapkan batas antara dua atau lebih kelompok.
Fungsi positif dari konflik dapat dilihat dalam gambaran bilamana suatu kelompok itu mengalami konflik dengan out-group.
Konflik yang sedang berlangsung dengan out-group dapat memperkuat identitas dari anggota kelompok tersebut. Salah satu hal yang membedakan Coser dari pendukung teori konflik lainnya ialah bahwa ia menekankan pentingnya konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Padahal pendukung teori konflik lainnya memusatkan analisa mereka pada konflik sebagai penyebab perubahan sosial. Dan juga couser menyebutkan beberapa fungsi dari konflik yang antara lain adalah :
a. Konflik dapat memperkuat solidaritas suatu kelompok yang agak longgar. Dalam masyarakat yang terancam perpecahan, konflik dengan masyarakat lain bisa menjadi kekuatan yang mempersatukan. Dalam hal ini, ia sebetulnya mengembangkan apa yang sudah dikatakan oleh Goerge Simmel sebelumnya. Misalnya pada masa sekarang, atas perasaan jengkel terhadap Negara Malaysia rakyat Indonesia menjadi lebih bersatu atas kepentingan yang sama dengan melakukan suatu pemberontakan atau penolakan segala hal yang berkaitan dengan Malaysia seperti “pemboikotan SPBU PETRONAS yang beroprasi di Indonesia”.
b. Konflik dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas didalam kelompok tersebut dan solidaritas itu bisa menghantarnya kepada aliansi-aliansi dengan kelompok-kelompok lain. Konflik yang berkepanjangan antara Israel dan negara-negara Arab telah menyebabkan Israel menjalin kerjasama yang solid dengan Amerika Serikat serta sekutu-sekutunya. Bila mana perdamaian jangka panjang antara negara-negara Arab dengan  Israel terjadi, maka ikatan antara Israel dan Amerika menjadi kendur.
c. Konflik juga bisa menyebabkan anggota-anggota masyarakat yang terisolir menjadi berperan secara aktif. Misalnya, karena kinerja himasos yang kurang baik maka bukan tidak mungkin,mahasiswa minoritas sosiologi yang tidak bergabung di dalam himasos  diberikan kepercayaan untuk melakukan tugas-tugas yang seharusnya ditangani oleh himasos,serta bisa juga mahasiswa yang diremehkan dan dikucilkan mejadi seorang hero di fakultas sosiologi.”Dalam hal ini himasos berperan sebagai pihak mayoritas”.
d. Konflik juga bisa berfungsi untuk berkomunikasi. Misalnya saja, beberapa ormas yang tidak puas terhadap kinerja pemerintah, maka akan berkompromi serta bertukar pendapat tentang tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya, apakah akan menbantu kinerja pemerintah atau mungkin menentang keras apa yang dilakukan oleh pemerintah selama ini. ”Dalam hal ini konflik terjadi antara pemerintah dengan ormas yang ada”.
2. KATUP PENYELAMAT
Katup penyelamat/savety valve ialah salah satu mekanisme khusus yag dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial .Katup penyelamat mengatur bilamana terjadi suatu konflik tidak merusak semua struktur yang ada,katup penyelamat membantu memperbaiki keadaan suatu kelompok yang mengalami konflik.
Dengan demikian praktek atau institusi katup penyelamat memungkinkan pengungkapan rasa tidak puas terhadap struktur. DPR atau DPRD, dapat berfungsi sebagai katup penyelamat,karena merupakan tempat untuk menyalurkan suara/aspirasi rakyat “tetapi menurut saya sekarang realitanya sangat mengenaskan, bahwa para anggota DPR sekarang ini seakan tidak memperdulikan rakyatnya tetapi hanya peduli pada dirinya sendiri”.
Menurut Coser, lewat katup penyelamat (safety-value) itu permusuhan dihambat agar tidak berpaling melawan obyek aslinya. Tetapi penggantian yang demikian mencakup juga biaya bagi sistem sosial maupun bagi indiviidu: mengurangi tekanan untuk menyempurnakan sistem untuk memenuhi kondisi-kondisi yang sedang berubah maupun membendung ketegangan dalam diri individu, menciptakan kemungkinan tumbuhnya ledakan-ledakan destruktif.
3. KONFLIK REALISTIS & NON-REALISTIS
Dalam membahas berbagai situasi Couser memberi perbedaan konflik menjadi 2 antara lain adalah konflik realistis & non-realistis .
Konflik yang realistis berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang  yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan,dan ditujukan kepada pihak yang dianggap mengecewakan. Contohnya adalah para mahasiswa yang mengadakan demo kepada pihak rektorat karena merasa tidak puas terhadap sistem pembelajaran yang selama ini telah dilaksanakan, dimana pihak rektorat memegang kekuasaan penuh atas semua sistem pembelajaran yang ada di dalam universitas.
Konflik sosial yang tidak realistis adalah konflik yang bukan berasal dari tujuan saingan-saingan yang antagonis, tetapi berasal dari hubungan untuk meredakan ketegangan, minimal meredakan dari salah satu pihak. contohnya adalah pada saat pemilu ,bilamana salah satu calon merasa akan kalah dengan pesaingnya di pemilihan nanti mungkin ia  akan melakukan cara yang ilegal/melakukan kecurangan pada saat pemilu yang sangat merugikan pada pihak lawan, mungkin saja dengan cara yang kejam yaitu dengan membunuh pesaingnya dengan membayar melalui pembunuh bayaran atau yang lainya.
Dengan demikian dalam satu situasi bisa terdapat elemen-elemen konflik realistis dan non realistis. Konflik realistis khususnya dapat diikuti oleh sentimen-sentimen yang secara emosional mengalami distorsi oleh karena pengungkapan ketegangan tidak mungkin terjadi dalam situasi konflik yang lain. Pemogokan melawan majikan, misalnya dapat berupa sifat-sifat permusuhan tak hanya sebagai akibat dari ketegangan hubungan antara rakyat dan penguasa, akan tetapi boleh jadi juga oleh karena ketidakmampuan menghilangkan rasa permusuhan terhadap figur-figur yang berkuasa. Dengan demikian energi-energi agresif mungkin terkumpul dalam proses-proses interaksi lain sebelum ketegangan dalam situasi konflik diredakan.
4. PERMUSUHAN DARI HUBUNGAN-HUBUNGAN SOSIAL YANG INTIM
Menurut Coser terdapat kemungkinan seseorang terlibat dalam konflik realistis tanpa sikap permusuhan atau agresif.contohnya simpel seperti yang  selama ini kita rasakan yaitu bilamana para mahasiswa yang mengerjakan soal-soal kuis, mereka berlomba untuk mendapatkan nilai-nilai yang terbaik dan itu merupakan sebuah persaingan, tetapi di balik itu semua mereka adalah teman seperkulihan yang saling membantu satu dengan lainnya.
Coser menyatakan, semakin dekat suatu hubungan semakin besar rasa kasih sayang yang sudah tertanam, sehingga semakin besar juga kecenderungan untuk menekan ketimbang mengungkapkan rasa permusuhan. Sedang pada hubungan-hubungan sekunder, seperti misalnya dengan rekan bisnis, rasa permusuhan dapat relatif bebas diungkapkan. Ha ini tidak selalu bisa terjadi dalam hubungan-hubungan primer dimana keterlibatan total para partisipan membuat pengugkapan perasaan yang demikian merupakan bahaya bagi hubungan tersebut.
Yang bersifat paradoks ialah, semakin dekat hubungan semakin sulit rasa permusuhan itu diungkapkan. Tetapi semakin lama perasaan demikian ditekan, maka semakin penting pengungkapannya demi mempertahankan hubungan itu sendiri. Karena dalam suatu hubungan yang intim keseluruhan kepribadian sangat boleh jadi terlibat, maka konflik itu, ketika benar-benar meledak, mungkin sekali akan sangat keras. Contohnya, konflik antara suami dan istri
Walau berat bagaimanapun masalahnya ketika konflik meledak dalam hubungan-hubungan yang intim itu, Coser menegaskan bahwa tidak adanya konflik tidak bisa dianggap sebagai petunjuk kekuatan dan stabilitas dari hubungan yang demikian. Konflik yang diungkapkan dapat merupakan tanda-tanda dari hubungan-hubungan yang hidup, sedang tidak adanya konflik itu dapat berarti penekanan masalah-masalah yang menandakan kelak akan ada suasana yang benar-benar kacau.
5. ISU FUNGSIONALITAS KONFLIK
Konflik dapat secara positif fungsional sejauh ia memperkuat kelompok dan secara negatif fungsional sejauh ia bergerak melawan struktur. Coser mengutip hasil pengamatan Simmel yang menunjukkan bahwa konflik mungkin positif sebab dapat meredakan ketegangan yang terjadi dalam suatu kelompok dengan memantapkan keutuhan dan keseimbangan. Peningkatan konflik dalam kelompok dapat dihubungkan dengan peningkatan interaksi dengan dan ke dalam masyarakat secara keseluruhan.
Couser juga menyatakan bahwa yang menentukan suatu konflik fungsional apa tidak adalah tipe isu yang merupakan subyek konflik itu. Konflik fungsional positif  bilamana tidak mempertanyakan dasar-dasar hubungan dan fungsional negatif jika menyerang suatu nilai inti.Seperti bila seorang orang tua memberi uang saku kepada anaknya untuk biaya kuliah, tetapi si anak ingin menggunakan uang tersebut untuk biaya modifikasi motor, maka konfliknya adalah tentang uang saku itu apakah digunakan untuk biaya kuliah / buged untuk modifikasi motor tetapi itu semua menyangut tujuan utama dari uang tersebut akan digunakan.
Couser juga menambahkan bahwa masyarakat yang berstruktur longgar ,terbuka dan demokratis membangun perlindungan suatu nilai inti dengan cara dengan membiarkan konflik itu berkembang di sekitar masalah-masalah yang tidak mendasar. Amerika sebagai contohnya dari masyarakat berstruktur longgar dan terbuka dimana pada negara tersebut terdapat suatu konflik mengenai berbagai masalah, mulai dari abortus ,nuklir dan masalah perpajakan. Oleh karena masalah-masalah tersebut tidak menyangkut nilai-nilai inti ,maka konflik yang seperti ini tak membahayakan struktur sosial. Ini malah dapat meningkatkan solidarotas struktural di mana berbagai kelompok bisa memiliki pandangan yang berbeda tetapi dengan masalah yang berbeda pula.
6. KONDISI KONFLIK ANTARA KELOMPOK DALAM (IN-GROUP) DENGAN KELOMPOK LUAR (OUT GROUP) Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa konflik dengan kelompok luar akan membantu pemantapan batas-batas struktural. Sebaliknya bahwa konflik dengan kelompok luar juga akan mempertinggi integrasi di dalam kelompok. Couser juga menyatakan bahwa :bilamana konsensus dasar suatu kelompok lemah, maka ancaman dari luar menjurus bukan pada peningkatan kohesi tetapi pada apati umum, dan mengakibatka suatu kelompok itu teracam pada perpecahan. Misalnya bilamana suatu kelompok yang sudah solid sejak awal berdirinya maka bila ada konflik di dalamnya akan tidak menimbulkan satu masalah apapun.
KRITIK-TERHADAP STRUKTURALISME KONFLIK
Couser lebih menganggap bahwa teori konflik itu sebagai teori persial daripada suatu pendekatan yang lebih dapat menjelaskan seluruh realitas sosial.
Karya-karya couser juga mengandung kelemahan-kelemahan metodelogis dan di dalam teori couser terdapat suatu kesan penalaran yang berbelit-belit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar